Tentang Kejujuran

jj1.jpg

Akan selalu saja ada alasan untuk melogiskan sebuah penolakan.
Akan selalu saja ada alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.
Akan selalu saja ada alasan, untuk sebuah kejahatan… jadi “seolah-olah” itu benar.
Yah jadi “seolah-olah” tepat.

Kenapa kok kamu berbuat begitu “kejam” ke orang itu?
Ini demi kebaikan dia kok. Supaya dia sadar akan kesalahannya…

Sebuah alasan bisa saja logis dan bisa diterima akal sehat ketika sekali dua kali alasan itu disampaikan. Setelah itu jika kesalahan serupa masih terjadi berarti masalahnya bukan alasan. Masalah sudah ada di tingkat karakter…

Bahkan untuk hal-hal yang jelas salah, mungkin saja kalo mau dirasionalisasi dan dilogiskan bisa kok…

Kenapa kamu berpacaran, tapi sikap kamu sama dia tidak bisa sabar? sabar dalam artian segalanya?!!
Ini untuk mengetes kesetiaan dan kemurnian hati pasangan saya.

dan lain-lain… dan lain-lain…

Semuanya relatif… Meski sesungguhnya untuk sesuatu yang salah tetap haruslah salah adanya…

Sikap yang tidak komit tetaplah tidak komit. Itu ada di masalah karakter…
Masalah ada di dalam diri orang, bukan di luar…

Perkara menolak tetaplah menolak…
Betapapun kita mencoba merasionalisasi segala sesuatu menjadi terasa logis.
Mencari-cari alasan sedemikian rupa sehingga kelihatan valid dan objektif.
Tetap saja sisi subjektivitas pastilah ada… Tidak mungkin dipungkiri,
itu wajar dan itu normal kok. Bukan untuk disembunyikan… tapi faktor itu toh masih mungkin untuk ditekan.

Ketika kamu berpikir bahwa kamu sudah cukup objektif dalam menilai orang, yah biasanya saat itulah kamu sama sekali bersikap tidak objektif.

Terkadang saya bertanya kenapa yah ngga banyak orang mau mengakui kelemahan diri… dan berkata…
Ini salah saya, saya akan memperbaiki diri dari posisi yang ada sekarang.. Saya keliru, maafkan saya.
Yah memang jarang ada kata-kata semacam itu yang diucapkan dengan tulus, bukan sekedar basa-basi untuk menarik simpati.
Dan saya dalam hal ini melihat permintaan maaf dan niat tulus itu dalam diri kamu, itulah yang sampai detik ini membuat penilaianku terhadapmu sedikitpun tak berubah.
kamu adalah tetap orang yang pertama dan utama dalam hidupku.

Kenapa sih ya manusia harus mencari alasan?

Yah, mungkin saja karena memang manusia itu tak pernah mau disalahkan…
Lagian, untuk setiap kesalahan… alasan itu selalu bisa dibuat, kan??

“lebih baik mengakui kelemahan dan kesalahan untuk diperbaiki, dari pada menutupi yang akan membodohkan kita terus….”

“Ayo akuilah kelemahan kita untuk kebaikan kita, Beranilah berkata jujur walau itu menyakitkan”

NOTE :
Maafkan aku kalo selama ini kamu merasa nggak punya harga diri di mata banyak orang karena pengawasan ketat dariku. tapi jujur.. aku lakukan itu karena aku sayang sama kamu. kamupun juga tahu, betapa pentingnya kamu di mataku, dan begitu hancurnya aku saat kamu berada dalam batas persimpangan yang menurut aku itu tidak wajar. aku membutuhkan kamu dalam hidupku, aku juga mengharapkan bimbinganmu dalam setiap jalan hidupku. karena kamu dan bidadari kecilmu adalah hidupku saat ini.

~ oleh ardjuna pada Desember 18, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: