Pengamen BIS Kota

Sabtu pagi kemaren, seperti biasa saya pergi ke kampus berangkat dari Rumah Kost menggunakan Angkutan Umum, tapi kali ini aku harus mampir ke kost temen dulu untuk mengambil tugas yang akan di presentasikan di mata kuliah ke dua nanti, hari ini Nia lagi sakit, jadi nggak bisa berangkat ke kampus. cukup jauh dan saya harus 2 kali naik bus dan sekali lagi menggunakan Ojeg.

Karena perjalanan cukup jauh, yah saya mengantuk juga, tapi tiba-tiba datang seorang pengamen dan dia mulai memainkan gitarnya, sebenarnya saya senang adanya pengamen yang benar-benar memainkan musiknya dengan baik, itu hiburan tersendiri bagiku, apa lagi jika mereka membawakan lagu-lagu rohani, walau mungkin ada pendapat sebagian orang mengatakan bahwa mereka sengaja menyanyikan lagu-lagu rohani biar para penumpang lebih tergerak hatinya. Bagiku hal itu tidak kupikirkan, tapi malah senang jika bertemu dengan pengamen rohani ini, karena walau bagaimana pun mereka ini mencari nafkah dan kalau memang orang tergerak memberikan lebih itu adalah karena Kuasa Allah SWT yang hadir menggerakan hati para pendengarnya, jadi saya tidak memikirkan itu kesengajaan si pengamen dan hanya untuk mencari keuntungan. Saya malah lebih bersyukur, karena sambil perjalanan itu saya malah bisa ikut bernyanyi kecil, mendengarkan lagu Islami yang di nyanyikan dengan baik sekali, malah saya rasa mereka adalah ‘Dakwah’ yang tanpa ragu-ragu untuk menyebarkan Ajaran Islam lewat nyayian.

Kemudian si pengamen tadi memulai memainkan gitarnya, sambil terkantuk-kantuk saya coba mendengarkan, tapi anehnya ini pengamen hanya memainkan gitarnya kecil-kecil saja, cukup lama dia memainkan gitarnya ini tanpa nyanyian, saya mulai berpikir, wah dia memang sudah berusaha tapi kurang begitu mengena di hati saya, walau begitu saya pun mempersiapkan uang kecil untuk diberikan kepadanya, saya menghargainya, mungkin dia memang kesulitan untuk menyanyi, mungkin suaranya serak dan mungkin pula memang dia ngak bisa menyanyi dengan bagus. Karena saya banyak menjumpai para pengamen di bis-bis kota, ada yang benar-benar dengan baik membawakan lagu dan ada yang memang dengan terpaksa mengamen karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia lakukan, jadi mereka hanya menunggu belas kasihan penumpang.

Sewaktu saya mau memberikan uang itu, ternyata ada ibu paruh baya disebelah saya juga sudah siap-siap memberikan uang kepada pengamen itu, dan dia memberikan uangnya tapi pengamennya malah ketawa dan berkata :

“Loh bu, saya belum menyanyi kok dikasih uang ?, tunggu dulu bu, biarkan saya nyanyi dulu dan sehabis itu barulah ibu memberikan uang itu.
Si ibu itu kaget dan saya juga kaget, rasa kantukku hilang, dan malah menjadi memperhatikan si pengamen dan ibu itu.
Ibu itu lalu berkata sambil tertawa, “Saya kira tadi udah selesai, jadi saya beri uang ini, iklas kok dik, tapi saya jadi malu nih, abis saya sangka adik sudah selesai ngamen’.
Saya juga berpikir yang sama dengan ibu itu dalam hati, bahwa dia sudah selesai mengamen, ternyata si pengamen menjelaskan bahwa tadi itu dia lagi memperbaiki gitarnya. Pantas saja dari tadi dia tidak nyanyi, He3x…

Lalu mulailah dia menyanyi dan sebelumnya dia berkata, maafkan jika suara saya tidak bagus karena ini bukanlah profesi saya, sebelumnya saya adalah pegawai bank yang terpaksa diberhentikan karena krisis ekonomi.

Kemudian dia menyanyikan lagu-lagunya, saya tersentak juga, karena walau begitu dia melakukannya dengan baik dan sungguh-sungguh, walau dia bukan penyanyi tapi dia menyanyi dengan baik dan dari situ saya yakin bahwa sebenarnya dia adalah pegawai yang baik, apapun pekerjaan yang dia kerjakan pastilah dia kerjakan dengan baik.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, akhirnya selesailah, dan kali ini saya merogoh uang disaku saya, dengan memberinya lebih, sampai tiba di deretan ibu tersebut. Ibu itu memberikan uangnya kepada pengamen, dan pengamen itu berkata “Terima kasih bu, Ibu ternyata memberi dengan iklas tanpa menunggu saya menyanyi pun, ibu mau memberikan saya uang”. Ternyata saya malah kalah sama ibu tadi. Saya memberi setelah saya melihat dan ‘menilai’ seseorang, saya malah mau memberi lebih karena sikap si pengamen dalam membawakan lagu-lagu dengan kesungguhannya…

Sedangkan si ibu tadi, dia memberikan uang itu tanpa melihat dan menilai, dia dengan iklas memberikan uang itu kepada si pengamen, tidak mempertimbangkan apakah pengamen itu akan membawakan lagu dengan baik atau tidak. Karena ibu itu yakin, saat ini uang yang tidak seberapa itu sangat berarti bagi diri sang pengamen. Saya juga simpatik dengan sikap pengamen tersebut, dimana dia tidak mau menerima uang yang diberikan ibu itu tanpa dia menyanyi lebih dahulu, walau dia sebagai pengamen tapi dia tahu kewajibannya.

Sekali lagi saya berkata dalam hati, apakah saya sudah memberikan dengan tulus seperti ibu tadi, tidak mempertimbangkan apakah dengan memberi saya akan mendapatkan lebih, apakah saya sudah bisa memberi dengan iklas dan suka rela tanpa adanya paksaan dan juga tanpa menunggu dan melihat orang lain dulu untuk memberi baru saya mengikutinya, apakah saya memberikan persepuluhan dari penghasilan sebagai suatu keharusan yang menjadikan seperti beban ataukah saya memberi dengan ketulusan walau jumlahnya tidak sepersepuluh dari penghasilan, ataukah saya sudah mampu memberikan seluruh yang saya dapat Dari Allah dengan penuh Iklas??

Dan juga apakah saya bisa seperti pengamen itu, dimana saya sudah mendahulukan kewajiban saya, sebagai pegawai di kantor, sebagai anak dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan juga sebagai umat muslim dimana saya tidak mendahulukan upah, tapi mau berkarya lebih terutama untuk menyebarkan Ajaran-Nya tanpa menuntut upah dari siapapun. Karena sudah seharusnya kita tahu, Allah telah lebih dulu memberikan kepada kita talenta untuk dikembangkan, semua yang kita hasilkan adalah dari Dia, dan sudah sepantasnya, kita berkarya untuk kemuliaanNya.

Terima kasih Tuhan atas kisah di pagi hari tersebut.

~ oleh ardjuna pada Desember 14, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: