Salah Siapa?

Saya tadi pagi berangkat kantor seperti biasa. Pukul 06.15. berjalan kaki sebentar ke ujung jalan untuk naik ojek ke pangkalan bis umum terdekat. Seperti biasa pula, saya naik bis yang biasa saya tumpangi. Sebentar saja bis sudah penuh, dan bis mulai berjalan.

Baru berjalan sekitar 30 menit, tiba-tiba bis menepi dan berhenti.
saya terbangun dari tidur dan menanyakan apa yang terjadi.
Ternyata sopir bis sedang turun dan menemui seorang polisi lalu
lintas. Rupanya sopir tersebut melanggar peraturan lalu lintas. Entah
apa. Yang jelas, dia sedang ditilang.

Aduuh….Aku merasa kesal. Ada-ada saja. Kenapa sih sopir itu tidak
bisa mematuhi peraturan lalu lintas? Gara-gara dia, bisa terlambat
deh masuk ke kantor. Apalagi hari ini ada meeting pagi.

saya sangat kesal kepada sopir bis tersebut. Salah siapa kalau sampai saya
jadi terlambat? Salah sopir bisnya dong. Kan, sudah jelas dia yang
melanggar duluan sehingga ditilang polisi. Coba kalau dia tidak
melanggar, pasti tidak ditilang. Semua penumpang bis tersebut saling
mengomel pelan-pelan. Semua juga tidak ingin terlambat, tetapi apa
boleh buat.

Akhirnya setelah menunggu 25 menit, bis berangkat lagi meneruskan
perjalanannya. Aku masih kesal. Pasti terlambat deh! Huh! Gara-gara
sopir yang sembrono! Rusaklah seluruh acara hari itu.

Betul juga. Setibanya di kantor saya sudah sangat terlambat. Atasan
dan beberapa kepala divisi dan supervisor sudah berada di ruang
rapat. Bahkan rapat sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Tuh, kan?
Kalau tadi sopirnya tidak sembarangan, dia tidak mungkin terlambat.
Sekarang mau ngomong apa? saya hanya bisa pasrah.

Terpaksa saya masuk ruangan sambil menahan rasa kesal. Rasanya
semua orang memandangku. Bahkan, saya merasa seakan-akan semua orang
di ruangan rapat sedang menyalahkan saya. Perasaan saya semakin tidak
keruan. Betul-betul hari sial. Tahu begini, lebih baik sekalian tidak
masuk kerja saja!

Sambil rapat, perasaan saya masih kurang nyaman. Soalnya saya
kemarin sudah meyakinkan atasan saya bahwa hari ini tidak akan terlambat
datang. Kalau sudah begini, kan jadi tidak enak kepada atasan?
Bagaimana kalau beliau marah? Untunglah selama rapat beliau tidak
menegur saya.

Menghadap atasan

Setelah selesai rapat, saya menghadap atasan. Dari pada dipanggil,
lebih baik menghadap. Dengan hati berdebar-debar dan sedikit rasa
takut, saya masuk ke ruang kerja atasan. saya mencoba bersikap
sopan dan hati-hati. Tapi rupanya atasan saya sedang gembira. Beliau
biasa saja. Tidak cemberut sama sekali.

saya berkata:”Pak, maaf tadi saya terlambat”.

“Ya. Mengapa bisa terlambat?”, tanya beliau.

“Soalnya bis yang saya tumpangi ditilang polisi. Lama lagi. Sampai 25
menit pak. Sopirnya sembarangan sih”, jawab saya jujur.

“Oh, yang salah sopirnya?”, tanya beliau dengan sedikit senyum.

“Ya pak! Betul! Saya tidak tahu dia melanggar apa. Yang jelas dia
yang bersalah.” saya menjawab dengan berapi-api.

Atasan saya hanya tersenyum. Dengan sabar dia bertanya “Sebenarnya
kalau mau jujur pada diri sendiri, apakah tadi kamu memang benar-
benar merasa harus datang lebih pagi dan tidak ingin terlambat?”.

“O ya. Pasti pak. Saya tidak ingin terlambat”.

“Apakah kamu memang sepenuh hati berpikir bahwa kamu tidak boleh
terlambat sama sekali?”

saya terdiam dan mulai berpikir.

“Kalau kamu memang berniat sungguh-sungguh untuk datang tepat waktu,
sungguh-sungguh tidak ingin terlambat, pasti seharusnya kamu ganti
bis. Betul tidak?”

“Iya sih……”, jawab saya!!

“Coba ingat-ingat tadi pagi. Saya tahu kamu tidak ingin terlambat.
Tapi dalam hatimu sebenarnya kamu merasa tidak apa-apa juga sih kalau
terlambat. Kan ini bukan salah kamu? Betul tidak? Maka itu kamu tidak
berusaha maksimal. Kamu tidak ganti bis.”

Sambil tersenyum malu, saya berkata:”Ya sih. Betul juga.”

“Jadi yang salah siapa? Sopirnya atau diri kamu sendiri?”, tanya
atasanku sambil tersenyum.

Saya merasa malu sendiri. Ya, saya sekarang menyadari bahwa saya tidak
sungguh-sungguh berniat tidak terlambat ke kantor. Niatku kurang
kuat. Kalau niat saya untuk datang pagi sangat kuat, tentu saya pindah
bis. Mengapa saya tadi tidak berpikir demikian? dasar BODOH…

Karena saya menerima hal itu dan tidak berbuat apa-apa. Ketika bis
berhenti lama, saya hanya duduk menunggu. Tidak berbuat apa-apa. Malah
kalau mau terus terang, saya agak gembira karena bisa tidur lebih lama
di dalam bis.

Yang membuat saya malu pada diri sendiri, sepanjang hari saya
menyalahkan sopir bis itu. Sepanjang hari saya merasa kesal pada sopir
bis yang melanggar tadi. Sepanjang hari saya uring-uringan. Padahal
kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya sendiri yang salah, bukan sopir
itu.

Mulai sekarang saya akan berusaha lebih objektif. Tidak terlalu mudah
menyalahkan orang lain. Siapa tahu, ternyata saya sendiri yang salah.
Think first! Do not always blame others!

~ oleh ardjuna pada Desember 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: